Rabu, 06 November 2013

Prolog Lika Liku si Merah

30 Agustus 2013.
Angin berhembus.
Riuk gemuruh ombak.
Matahari terbenam
Pelangi Senja di Bumi Rafflesia.
Tapak Paderi di Pantai Panjang.

Aku masih saja duduk diantara pasir-pasir putih bersandarkan pohon cemara yang setia menemaniku. Tempat ini masih seperti yang dulu. Masih seperti satu tahun yang lalu. Terakhir aku menikmati keindahan matahari terbenam bersamanya. Ya, bersamanya. Tempat ini memang menyimpan berjuta kenangan, kenangan bersamanya. Disana, di atas Benteng Malborough tempat dia selalu mengucap kata cinta, ribuan untaian sajak pernah diutarakannya padaku. Benteng itu selalu menjadi saksi bisu. Tapi itu dulu, saat cinta itu masih ada. Sebelum semuanya hanya menjadi kenangan. Yang aku tidak tau harus bahagia karena sudah bisa melupakannya atau sedih karena harus mengingat kenangan indah yang terlalu sakit jika harus diingat? Entahlah..
Kucuba memejamkan mata, mencoba mengingat kenangan-kenangan yang pernah kulewati bersamanya, ditanah ini, ditempat dimana aku berpijak. Bumi Rafflesia.
Andai waktu bisa kuputar kembali, ingin kunikmati masa-masa itu. Masa dimana aku masih bersahabat dengan gemuruh ombak dan leluasa mengitari pantai Panjang ini bersamanya. Menikmati matahari terbenam, berlari-lari kecil saat canda tawa masih milik kami berdua. Sekarang? ~
Ukiran nama dipohon ini masih ada, namaku dan dia. Dia yang mengukirnya. Aku masih ingat betul saat aku mengukir nama kami dipasir, dan ombak menghapus nya. Lalu dia berjalan menuju sebuah pohon, pohon cemara yang kokoh, mengukir namaku dan dia. Dia bilang, biar ga bisa ada yang ngapus lagi. Kecuali kalau ada yg menebang pohon itu, hilanglah semuanya.

Dan kini? Kini kurasakan pohon itu sudah tumbang terterpa angin walaupun  bentuknya masih ada berdiri kokoh melawan angin. Ya, itulah yang aku rasakan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar